Artikel
Metamorfosis Iklanbaris
Iklan baris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan transaksional jual-beli pada masyarakat. Iklan baris telah menempati posisi penting yang bahkan belum pernah ada sebelumnya media (bentuk) lain yang menempati posisi ini pada masyarakat.
Ketergantungan terhadap penggunaan iklan baris, baik oleh pencari informasi maupun pemilik informasi, adalah suatu keniscayaan yang tidak seorangpun menolaknya.
Koran sejak lama menjadi media informasi utama kedua setelah televisi. Bagi kebanyakan masyarakat dan sebagian besar pelaku usaha, koran membaca koran telah menjadi suatu rutinitas keseharian yang tanpa disadari bermetamorfosa menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Harga yang terjangkau, format yang sangat sederhana, update konten setiap hari, dan saluran distribusi yang menjangkau hingga pelosok-pelosok kota menjadi keunggulan yang ditawarkan koran.
Iklan baris dan koran memiliki kesamaan karakter yang membuat media ini sangat diminati masyarakat. Konten iklan baris pada koran tidak dapat disangkal lagi, bukan lagi menjadi sekedar
sweetener dalam purchasing behaviour masyarakat, lebih jauh dari itu, iklanbaris bahkan pada beberapa jenis koran menjadi faktor penentu pembelian koran itu sendiri.
POSKOTA misalnya, pada koran dengan oplah terbesar di ibukota ini, lebih dari 50% pembelinya merupakan para pelaku usaha mikro yang membeli koran ini dengan alasan untuk membaca iklan baris. Hal ini juga terjadi pada
KOMPAS walaupun dengan persentase yang lebih rendah. Dua koran ini adalah koran dengan oplah terbesar di Indonesia dan mendominasi pasar iklan baris di negeri ini.
Dimulainya metamorfosis iklan baris
Di era informasi seperti sekarang ini, koran menghadapi tantangan berat antara lain perubahan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat. Sudah sejak lama koran menempati comfort zone sebagai "pedagang informasi" menggunakan media cetak kertas.
Ditengah kenaikan yang pasti setiap tahunnya pada biaya bahan baku kertas, biaya cetak, administrasi, distribusi dan berbagai biaya lain yang membebaninya, koran masih mampu tumbuh dengan cukup meyakinkan. Pada kasus Media Indonesia dan koran-koran daerah milik Media Group misalnya, kumpulan koran-koran ini bahkan mampu menanggung hidup "saudara muda" mereka Metro TV, sebuah televisi yang lahir semata berdasar idealisme sang pemilik, yang mengalami kesulitan keuangan selama beberapa tahun awal kehidupannya.
Seiring lahirnya teknologi informasi, koran pun memperoleh benefit yang cukup signifikan. Penggunaan komputer dan internet dalam kegiatan operasional dan administrasi, kegiatan produksi, hingga kegiatan penjualan menekan biaya sekaligus meningkatkan efektifitas hasil secara keseluruhan.
Layaknya kupu-kupu, iklanbaris telah pula memulai tahap awal dalam metamorfosisnya menuju kepada bentuk iklan masa depan.
Layaknya dua sisi mata uang, perkembangan dan peningkatan taraf kehidupan manusia memunculkan masalah baru; isu pelestarian lingkungan. Hutan tropis yang semakin langka menghadirkan ancaman baru bagi kehidupan manusia. Penebangan hutan untuk memperoleh kayu sebagai bahan baku kertas telah menjadi isu serius baik domestik maupun global. Beberapa pemain besar industri kertas pun tumbang, sebagian karena masalah keuangan berat, sebagian lainnya terjerat masalah hukum.
Saatnya teknologi memberikan jawaban bagi permasalahan ini.
Metamorfosis fase kedua; teknologi online
Seiring berkembang pesatnya penggunaan Internet, penciptaan media online menggiring iklan baris memasuki fase kedua bagi proses metamorfosis. Efisiensi waktu dan biaya sangat terasa dalam penggunaan media ini. Kemudahan yang menjadi keunggulan utama iklan baris pun sangat terasa disamping terlepasnya belenggu keterbatasan akan jumlah karakter dan kemiskinan visual yang tidak lagi ditemukan.
Penggunaan internet sebagai media online disambut antusias oleh masyarakat pengguna iklan baris. Provider iklan baris online pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Mulai dari portal berita yang menyediakan space iklan baris hingga portal yang khusus diperuntukan bagi layanan iklan baris.
Kembali, edukasi pemanfaatan teknologi ini dan ketersediaan jaringan internet menjadi kendala bagi maksimalisasi penayangan iklan baris melalui media ini. Hingga kini penetrasi pemakaian internet masih di dominasi oleh kalangan pekerja dan pelaku usaha formal atau biasa disebut golongan kerah putih. Para pelaku udaha mikro yang notabene merupakan konsumen terbesar layanan iklan baris masih belum tergarap secara maksimal.
Ketidaksiapan para provider iklan baris, produsen media cetak konvensional, pemerintah, dan pihak terkait lain dalam mengantisipasi hal ini menjadikan proses transformasi ini gagal mencapai hasil maksimal.
Bagaimanapun, proses metamorfosis harus diteruskan untuk mencapai iklan baris masa depan yang lebih efektif, lebih murah, mudah, lebih tepat sasaran, dan ramah lingkungan.
Teknologi pun berkembang pesat seiring perkembangan kebutuhan hidup manusia. Mobilitas yang semakin tinggi membuat manusia semakin kreatif dalam mencipta teknologi yang mampu membantu manusia dalam kegiatan kesehariannya.
Lahirnya teknologi mobile yang diawali dengan penciptaan telepon genggam, atau biasa kita sebut dengan sebutan "ponsel", membawa angin perubahan yang sangat cepat. Keterikatan manusia akan ruang (tempat) dan waktu dalam melakukan aktivitasnya menjadi tidak lagi relevan.
Dengan kemudahan dan fleksibilitas yang tinggi, masyarakat (terutama di perkotaan) mengadopsi teknologi ini hampir tanpa hambatan. Dengan terbukanya ruang bagi perdagangan bebas (resmi maupun sembunyi-sembunyi) menurunkan ongkos produksi perlengkapan komunikasi ini secara signifikan.
Kini hampir di setiap pelosok kota besar dengan mudah kita temui perangkat kecil ini digunakan. Semakin murahnya biaya koneksi dan bervariasi nya layanan yang ditawarkan operator membuat industri ini semakin hari semakin bergairah.
Menuju metamorfosis paripurna; mobile internet
Berawal dari suara (voice), teknologi komunikasi bergerak (mobile) berevolusi menuju kesempurnaannya. Semenjak ditemukannya (secara tidak disengaja-red), teknologi pengiriman pesan singkat (biasa kita kenal dengan sebutan SMS) dalam waktu yang amat singkat menjelma menjadi diva dalam industri layanan (operator) seluler.
Kemunculannya pun memanfaatkan momentum yang sangat tepat, disaat tarif telepon selular jauh diatas tarif telepon rumah!. Saat dimana operator mematok tingkat pengembalian yang cukup tinggi atas investasi infrastruktur yang mereka tanamkan untuk layanan kepada pelanggan.
Dengan biaya kurang dari 25% tarif bicara (voice) minimum, penggunaan SMSpun segera mengambil alih peran voice terutama pada segmen pengguna usia muda yang secara kuantitas memiliki pertumbuhan (growth) dramatis. Revenue stream dari SMS pun oleh operator dijadikan sebagai penghasilan utama mereka menggantikan penghasilan dari penggunaan traffic voice.
Kini, sms bahkan telah secara agresif melebarkan sayapnya menggantikan peran kartu ucapan yang sejak puluhan tahun lamanya berada di hati masyarakat. Demikianlah hukum alam yang berlaku bagi perkembangan customer behaviour.
Perkembangan dunia telekomunikasi nir kabel nampaknya masih belum berakhir. SMS yang disebut-sebut sebagai primadona penghasil rupiah, di beberapa negara maju telah dianggap usang. Kapankah kebiasaan ini (sebagaimana juga kebiasan lain yang telah lebih dulu diadopsi) akan mulai menular kepada masyarakat Indonesia? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. -
(ferhat)Published : Friday, 12 Jun 2009
‹ Kembali